Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian, maka suara-suara
yang sebelumnya luput dari indra pendengarmu akan bermunculan satu demi satu. Suara
tuts keyboard komputermu, suara jarum jam dinding yang berdetak nyaring, suara
binatang malam yang bernyanyi riang, suara tiupan angin, suara gemerisik
dedaunan, suara kendaraan bermotor di kejauhan, suara raungan sirene, suara
kepak sayap binatang malam, suara lolongan anjing yang saling bersahutan, suara
tetesan air dari keran di kamar mandi yang tak tertutup sempurna, suara
hembusan nafas anak dan istri yang terlelap di sebelahmu, suara celotehan
orang-orang yang masih terjaga di pos ronda, dan suara-suara lain yang kau tak
mengerti entah milik siapa.
Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian. Kau
terkadang dapat mendengar suara kokok ayam jantan, kau terkadang dapat
mendengar raungan kesedihan dan ratapan keputusasaan, kau terkadang dapat
mendengar suara igauan anak-anakmu, kau terkadang dapat mendengar bunyi
notifikasi dari seluler pintarmu yang berada di bawah tumpukan bantal, kau
terkadang dapat mendengar suara tangisan anak-anak dari rumah sebelah, kau
terkadang dapat mendengar perselisihan orang-orang yang sedang bermabukan.
Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian. Kau tidak
mendengarkan apapun kecuali degup jantungmu, desah nafasmu, bunyi persendianmu,
pilinan rambutmu, gemertak gigimu, ketukan jemarimu, bahkan suara hatimu
sendiri. Dunia serasa kosong. Sepi. Dan kau mulai mendengarkan bisikan di dalam
hatimu, erangan jiwamu, gejolak syahwatmu, kegelisahan pikirmu, dan suara-suara
lain yang muncul dari dalam dirimu. Bahkan bukan tidak mungkin, kau mulai
mendengarkan suara Tuhan di sela sujud-sujud panjang dan doa-doa yang kau
lantunkan.
Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian. Suara apa
yang ingin kau dengarkan dengan sangat, dan suara apa pula yang hendak kau
tolak kuat-kuat? [wahidnugroho.com]
Kilongan, Mei 2014
0 celoteh:
Posting Komentar